Senin, 14 November 2011

Fungsi Seni Pertunjukan tradisional di masyarakat


Fungsi Seni Pertunjukan Tradisional
di Masyarakat

Membicarakan keberadaan seni pertunjukan tradisional pada saat ini sangat memprihatinkan. Sebab banyak sekali kita baca atau kita amati sendiri, keberadaan seni pertunjukan tradisional sangat mengenaskan.[1] Dalam arti bahwa, dengan derasnya berbagai sarana komunikasi maupun informasi ternyata cukup besar pengaruhnya terhadap keberadaan seni pertunjukan tradisional. Group-group kesenian tradisional mulai menghilang, karena tiadanya faktor penyangganya baik dalam bentuk dana, kamampuan ataupun regenerasinya. Oleh karena itu, mereka tidak dapat bersaing dengan munculnya bentuk-bentuk kesenian modern yang lebih diminati oleh masyarakat sekarang. Sehingga dengan demikian bila seni pertunjukan tradisional itu dirasa sudah “tidak berfungsi”, dengan sendirinya keberadaannya akan menghilang dari masyarakat pendukungnya. bahwa pada dasarnya seni pertunjukan tardisional secara umum mempunyai empat fungsi utama yaitu:
  1. Fungsi ritual
  2. Fungsi pendidikan sebagai media penuntun
  3. Fungsi/media penerangan atau kritik sosial
  4. Fungsi hiburan atau tontonan

1.      Fungsi ritual 
Pada awal tumbuhnya seni tradisi bermula dari adanya keperluan-keperluan ritual. Seni yang dimunculkan biasanya dianalogikan dalam suatu gerak, suara, ataupun tindakan-tindakan tertentu dalam suatu upacara ritual.maksudnya adalah sebagai ungkapan atau simbol untuk berkomunikasi.
Di dalam perkembangan selanjutnya, dewasa ini seni pertunjukan tradisional juga masih dapat memperlihatkan fungsinya secara ritual. Untuk memenuhi fungsi secara ritual ini, seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih tetap berpijak kepada aturan-aturan tradisi yang berlaku.[2] Sebagi contohnya seni pertunjukan tradisional yang berfungsi sebagai sarana ritual juga terletak pada penciptaan tari Bedhaya Ketawang, yang dipertunjukan bagi penobatan Raja naik tahta. Di istana Kraton Kasultanan Yogyakarta maupun di Kasunanan Surakarta, tari ini dipercaya bahwa Bedhaya Ketawang diilhami oleh Kanjeng Ratu kidul. Tarian ini dimainkan oleh 9 orang putri yang masih suci (belum haid) dan sebelum menarikannya harus menjalani masa pingitan. Bedhaya sendiri secara tradisional tampil dalam kelompok sembilan. Busana dan hiasannya adalah busana dari pengantin putri. Musik dan nyanyian yang mengiringinya sangat lambat, teks nyanyiannya diangggap begitu suci, bahkan transkripnya dihindari karena takut akan kesalahan.

2.   Fungsi pendidikan sebagai media penuntun
Salah satu fungsi dari seni pertunjukan tradisional yang tidak kalah pentingnya adalah berfungsi sebagai media pendidikan atau sebagai tuntunan bagi para penonton yang menikmatinya. Di dalam setiap pementasan seni pertunjukan tradisional, pada intinya para seniman yang melakukannya mempunyai misi yang ingin disampaikan kepada para penontonnya. Misi yang akan disampaikan itu bisa melalui dialognya ataupun melalui gerakan apabila itu berupa tarian.
Sebagai media pendidikan melalui transformasi nilai-nilai budaya yang ada di dalam seni pertunjukan tradisional tersebut, maka seorang seniman betul-betul dituntut untuk dapat berperan semaksimal mungkin atas peran yang diembannya. Seni pertunjukan tradisional sebagai media pendidikan sebenarnya sudah terkandung pada hakekat seni pertunjukan itu snediri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya, serta dalam ceritera yang secra utuh. Memang kadang kala hakekat seni pertunjukan tradisional diakui agak rumit dimengerti (dialog-dialognya atau ceritera-ceriteranya) terutama bagi generasi muda.

3.   Fungsi/media penerangan atau kritik sosial
Dalam masa pembangunan seperti sekarang ini, seni pertunjukan tradisional juga cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, khususnya bagi masyarakat pedesaan atau masyarakat pada umumnya. Pesan yang ingin disampaikan dapat dilakukan melalui tokoh Punakawan pada seni pertunjukan wayang orang. Punakawan inilah yang mengggambarkan figur-figur rakyat, sehingga kritik-kritik sosial ataupun media penerangnan disampaikan melalui mereka diharapkan para penonton akan lebih mudah menangkap dan mencernanya.
Pesan-pesan pembangunan yang ingin disampaikannya bisa berbagai macam topik sesuai dengan keinginannya. Bila topik-topik sekitar kepahlawanan, kebersamaan, kesetiaan, kepatuhan, bahkan dapat pula berupa kritikan sosial yang cenderung banyak dilakukan oleh masyarakat pada masa kini. Permasalahan yang timbul sekarang adalah bagaimana agar seni pertunjukan tradisional itu tetap disukai oleh masyarakat, sehingga fungsinya sebagai media penerangan serta sebagai media untuk mengungkapkan kritik sosial dapat terwujud.
Sebagai media untuk penyampaian kritik sosial, memang dengan bentuk kesenian tradisional sungguh tepat. Masyarakat Indonesia yang menganut paham paternalistik tentu tabu apabila akan mengkritik seseorang secara langsung, apabila kalau orang yang dikritik itu adalah pemimpinnya, atasannya, ataupun saudaranya, atau juga kondisi negara pada saat ini. Media yang sangat tepat untuk menyindir melalui tokoh-tokoh yang diperankan ataupun melalui dialog-dialog tertentu.

4.   Fungsi hiburan atau tontonan
Fungsi seni pertunjukan tradisional sebagai sarana hiburan atau tontonan sudah jelas. Biasanya penonton melihat kesenian bertujuan untuk mencari hiburan, melepas lelah, menghilangkan stres dan bersantai ria. Seni pertunjukan tradisional seperti wayang orang sebagai sarana hiburan biasanya pertunjukan begitu lepas dan tidak dikaitkan dengan pelaksanaan upacara ritual. Pertunjukan ini diselenggarakan untuk memperingati peristiwa atau sebagai sarana hiburan dalam suatu keperluan. Namun demekian pemilihan lakon disesuaikan dengan peristiwa yang diperingati.
Sebagai dampak negatif yang ditimbulkan dari pementasan seni pertunjukan tradisional adalah dijadikannya pementasan kesenian ini sebagai arena perjudian, arena mabuk-mabukan bahkan tidak sedikit yang mengakibatkan timbulnya perkelahian. Melihat kondisi itu, bila dilihat dari fungsi seni pertunjukan tradisional sebagai sarana hiburan memang tidak salah. Oleh karena pada intinya penonton datang melihat seni pertunjukan tradisional adalah mencari hiburan, mencari kesenangan, mehilangkan stress dan mehilangkan kesedihan.
Beberapa media massa pada akhir-akhir ini mengulas keberadaan seni tradisi yang semakin memprihatinkan keberadaannya. Disamping mengulas tentang senimannya yang semakin memelas kehidupannya, ternyata panggung-panggung hiburan tempat seni tradisi ini pentaspun juga semakin banyak yang ditutup, gulung tikar tidak beroperasi lagi.
Di sisi lain, para seniamanpun sudah semakin kehilangan akan jati diri sebagai seniman. Oleh karena paling tidak mereka dituntut untuk lebih berkreasi maupun bermotivasi dalam upaya menyiasati era global ini, agar kesenian tradisional tetap dapat bertahan hidup. Keberadaan seni tradisional ternyata sangat ditentukan oleh dua hal yang penting yaitu:
  1. Faktor senimannya pekerja seni/pelaku seni)
  2. Kepedulian masyarakat pendukungnya.

1.      Faktor Seniman (pelaku seni)
Seniman adalah seseorag yang sepenuhnya kehidupannya dicurahkan kepada salah satu bentuk kesenian. Profesi seniman diperoleh seseorang dapat melalui bakat, dalam hal ii karena faktor keturunan dan dapat pula karena atau melalui sosialisasi. Keberadaan seniman seni tradisi pada saat ini memprihatinkan . mereka kurang dihargai atau kurang memperoleh perhatian di masyarakat maupun pemerintah. Pekerja seni dianggap sebagai yang diremehkan, dan kurang dapat menjanjikan untuk kelangsungan hidup seseorang.
Menurut beberapa ahli seni, para pekerja seni sebagai ternyata dewasa ini orientasinya para seniman ada kecenderungan berorientasi kepada seni sebagai pencaharian lahan hidup. Degan demikian berbagai macam jalan ditempuh, asalkan mendapatkan/mendatangkan uang. Mental komersial yang selalu berorientasi kepada uang ternyata juga telah memasuki para seniman muda, bahkan telah berpendidikan tinggi sekalipun. Alasan utama penyebabnya adalah ternyata mereka telah berorientasi komersial, sehingga berpengaruh pula terhadap ekspresi tariannya yang asal-asalan saja. Ataupun dapat pula disebabkan mereka telah berstatus pegawai negeri. Mereka akan tampil baik atau burukj tetap menerima gaji, hak seperti itu yang tidak mengacu kreatifitasnya.
Tantangan keberadaan seniman seni tradisi dalam menatap masa depan sebenarnya cukup berat. Sebab mereka harus benar-benar dapat bersaing dengan jenis kesenian modern maupun kontemporer yang telah banyak tampil bahkan merajai layar kaca. Para seniman seni tradisi hendaknya akan selalu tanggap terhadap perubahan lingkungannya, sehingga dapat membuat terobosan-terobosan baru tanpa meninggalkan pakem. Memang, untuk dapat merubah orientasi para senimannya yang terlanjur bersifat komersial memang cukup sulit dan butuh proses. Oleh sebab itu, keterlibatan pemerintah pun sangat diharapkan dalam penanganan pembinaan seni tradisi.

2.      Kepedulian masyarakat pendukungnya
Apabila diperhatikan tentang keberadaan seni pertunjukan secara kuantitas cukup mengembirakan. Akan tetapi secara kualitas kita cukup sering mengelus dada. Sebab sekarang banyak kita melihat berbagai jenis seni tradisi yang berjalan sudah tidak sesuai denagn pakemnya, tidak sesuai dengan aturannya, sehingga pertunjukan seni tradisi semakin tidak mempunyai “ruh”nya. Mereka cenderung berjalan semuanya sendiri, asalkan ia tetap laris, tetap disenangi penonton dan yang penting penontonnya juga ikut senang. Dengan demikian mereka sah-sah saja untuk berkreasi semuanya sendiri tanpa ada larangan.
Sampai sekarang, kita masih mendengar keluhan bahwa seni tradisi semakin tersingkirkan. Hal ini terjadi karena tidak lain, di satu sisi seni tradisi yang selama ini menjadi legimitasi atau simbol bagi bangsa yang beradab, dan disisi lain dianggap sakral, menjadi cair karena hanya bernilai sebagai seni hiburan saja. Bahkan hanya sekedar simbol atau sebagai pernik-pernik kehidupan belaka, sehingga masyarakat sendiri akan merasa kesulitan bagaimana memposisikan seni tradisi dalam dinamika global.
Dilihat dari animo masyarakat, seni tradisi yang semaki lama semakin sedikit penontonnya para pelaku seni tradisi hendaknya harus berani mengambil gebrakan atau inisiatif atau terobosan baru agar seni tradisi ini tetap diminati oleh masyarakatnya. Tentu saja terobosan ini tidak berhasil apabila tanpa ada dukungan dari masyarakat sebagai pemangku kebudayaan tersebut. Bagi masyarakat yang kehidupan sosial kulturalnya sangat kuat, maka keberadaan seni tradisi masih dapat tumbuh subur.
 


[1]Kriswanto hjhjhj (,ggug

A. Latar Belakang komposisi Layung karya R.C. Hardjasoebrata
            Karawitan merupakan salah satu cabang seni yang telah dikenal di wilayah Nusantara khususnya di pulau Jawa, bahkan sudah merambah pada ranah mancanegara. Sumanto dalam bukunya yang berjudul Nartosabdho Kehadirannya dalam Pedalangan yang sudah dikutip Marsudi mengatakan, bahwa eksistensi karawitan diketahui oleh khalayak karena pewarisannya dilakukan secara turun temurun.[1] Hal tersebut mendorong manusia untuk lebih mengetahui bagaimana warisan tersebut menjadi sangat berarti bagi masyarakat Jawa sebagai pelestari budaya Jawa. Karawitan sebagai objek penciptaan karya seni memberikan berbagai kemungkinan untuk dikembangkan dan diolah kembali. Menurut Sri Hastanto yang telah dikutip oleh Marsudi, proses pengembangan yang terjadi merupakan upaya yang ditempuh untuk menyesuaikan nilai-nilai lama dengan yang baru, materi lama dengan garap lama, materi lama dengan garap baru serta materi baru dengan garap baru.[2]
            Salah satu bagian penting yang menjadi faktor pendukung dalam karawitan adalah garap. Garap merupakan sebuah sistem yang melibatkan beberapa unsur di dalamnya.[3] Proses penggarapan sebuah gending dilakukan dengan pemikiran pada beberapa aspek, yaitu: materi garap, perabot garap, penentu garap, dan pertimbangan garap. Pada hakikatnya garap merupakan landasan pokok dalam karawitan tradisional untuk mewujudkan kreativitas agar dapat berkembang pada aspek  kualitasnya. Dengan adanya garap karawitan yang beragam mampu menembus batas daerah gaya serta mampu berkolaborasi dengan musik dari berbagai wilayah budaya di seluruh dunia, bahkan dengan kompetensi yang semakin relevan memungkinkan seorang komposer untuk menciptakan karya berupa komposisi baru karawitan dengan alternatif dan perspektif baru.[4] Ditegaskan oleh Humardani yang telah dikutip oleh Marsudi bahwa waton, pakem, atau konvensi dalam karawitan tradisional tidak lagi dipandang sebagai pedoman yang mengikat, melainkan dipandang sebagai bahan inspirasi yang masih harus dikembangkan dan diolah kembali sesuai dengan tuntutan ekspresinya. Penggarapan ataupun aransemen memerlukan adanya keberanian, pengetahuan, dan keterampilan yang cukup untuk memperkenalkan kepada masyarakat, karena harus melawan arus kemapanan yang sudah akrab di masyarakat yaitu karawitan tradisional.[5]
  Menurut pendapat Rahayu Supanggah, bahwa istilah komposisi diperkirakan muncul dan digunakan pada era 70-an. Istilah yang digunakan sebelumnya dan kurang lebih bermakna sama adalah gending atau lagu.  Gending  lebih banyak digunakan untuk menyebut komposisi karawitan berukuran (relatif)  besar atau memerlukan waktu sajian yang panjang dan atau menekankan pada sajian yang menggunakan gamelan, sedangkan lagu untuk menyebut komposisi karawitan berukuran kecil dan atau yang memberi tekanan pada sajian vokal. Komposisi sebagai istilah yang relatif muda biasanya untuk menyebut komposisi karawitan garapan baru yang berusaha keluar dari kebiasaan yang berlaku pada gending tradisi.[6] Pengertian tentang istilah gending di atas berbeda dengan gending dalam karawitan gaya Yogyakarta yang mengartikan sebagai sebuah bentuk lagu/komposisi yang tidak terbatas pada besar kecil atau durasi dalam penyajiannya. Namun, perbedaan pengertian yang dilandasi dengan alasan masing-masing dan menjadi bagian dari sebuah tradisi, maka tidak akan dibahas atau dipertentangkan dalam tulisan ini.
            Penciptaan komposisi baru merupakan sebuah upaya pengembangan karawitan yang dapat memberikan perbedaan warna dengan karya yang sudah diciptakan sebelumnya. Prinsip pemikiran pada penciptaannya dilakukan untuk memberi nilai tambah pada suatu  karya, cara kerja, cara hidup agar senantiasa menghasilkan produk baru yang lebih baik dan memperbaharui produk yang sudah ada sebelumnya. Konsep pemikiran pada penciptaan karawitan komposisi baru merupakan perpaduan yang mempertemukan beberapa unsur estetik sebagai salah satu jembatan untuk menyalurkan kreativitas bagi seseorang, ketika seniman mempunyai gagasan. Alasan tersebut menjadi landasan pemikiran pada tatacara untuk mewujudkan ide, sehingga karya tersebut mempunyai nilai estetis yang tinggi atau disebut juga adi luhung.  Elemen yang dipergunakan dalam proses penciptaan komposisi baru karawitan dapat diterapkan sebagai materi untuk mengembangkan dan menemukan keragaman pada nilai estetik maupun musikalitasnya. Salah satu produk karawitan yang  dijadikan sebagai sumber kajian dalam tulisan ini adalah karya R.C. Hardjasoebrata. R.C. Hardjasoebrata mempunyai pemikiran, keinginan, dan tujuan agar seni karawitan akrab dengan masyarakat, sehingga kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai pelengkap dalam kehidupannya. Karawitan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat pada masa itu masih dalam konteks garap dengan menggunakan idiom musikal yang lama, sehingga masyarakat hanya memandang dari aspek karawitan tradisional. Demikian juga dengan pemikiran pada konteks penyajiannya yang masih dianggap sebagai sarana pengiring untuk jenis pertunjukan lain atau pengisi untuk membentuk suasana dalam suatu upacara ritual.
            R.C. Hardjasoebrata mempunyai pandangan dan pemikiran, bahwa sesungguhnya seni merupakan bentuk dari pengekspresian keindahan. Tujuan untuk menciptakan lagu/komposisi karawitan tidak sekedar memenuhi ingin menambah jumlah akan tetapi menyumbangkan kekayaan karya.[7] Hasil karya yang diciptakan oleh R.C. Hardjasoebrata sangat beragam, misalnya komposisi lagu yang berbirama ¼ atau ¾, eksperimen dan eksplorasi patet, dan cakepan vokal yang  diubah dari bahasa Jawa menjadi bahasa Indonesia.
  Komposisi karawitan Layung merupakan karya yang menjadi bahan kajian dalam tulisan ini. Komposisi karawitan Layung adalah salah satu hasil karya cipta dari R.C. Hardjasoebrata yang banyak memiliki unsur pembaruan pada bentuk ataupun aransemen. Pengkajian pada komposisi karawitan Layung menemukan beberapa keunikan dan salah satunya adalah pemikiran berbobot pada deskripsi musikal yang terbagi antara struktur instrumen maupun cakepan vokal. Keunikan lain dari komposisi tersebut adalah pengolahan patet serta rumpakan gerongan yang sangat menarik untuk diikuti dan dicermati makna serta alur ceritanya. R.C. Hardjasoebrata juga mengembangkan vokal dengan membaginya dalam suara I, II, III. Vokal yang disajikan tidak menggunakan lirik yang sudah ada, misalnya cakepan sindhenan atau gerongan pada gending-gending pada umumnya, tetapi dibuatkan lirik baru yang sesuai dengan ide komposer.
            Komposisi karawitan Layung adalah salah satu komposisi yang diciptakan dengan pemikiran pada aspek dramatisasi dalam penggarapan melodi ataupun suasananya dengan tujuan untuk menyajikan karya yang dinamis. Susunan dan permainan nada yang cukup rumit sebagai wujud pemunculan patet baru yang masih menjadi catatan penting dan materi  untuk dikaji lebih lanjut.
            Layung merupakan gambaran dari sebuah realita mengenai fenomena perubahan situasi alam yang muncul pada sore. Komposisi karawitan Layung menggambarkan situasi lingkungan pedesaan yang indah, kegiatan masyarakat dalam mengolah tanah, pembangunan, dan kegotongroyongan masyarakatnya. Di sisi lain pelangi juga menginspirasi R.C. Hardjasoebrata untuk mengekspresikan dalam bentuk komposisi karawitan yang dikemas serta diaktualisasikan dengan didukung perangkat Gamelan Ageng berlaras pelog.

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian yang dipaparkan pada latar belakang, maka penulis menemukan adanya permasalahan yang berkaitan dengan bentuk komposisi dan unsur musikal pada repertoar Layung. Adapun permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.     Bagaimana struktur dan bentuk komposisi karawitan Layung?
2.     Bagaimana ciri khas yang menunjukkan keunikan komposisi karawitan Layung ?

C. Tujuan Penelitian
1.     Mengetahui struktur dan bentuk komposisi karawitan Layung.
2. Mengetahui ciri khas serta keunikan yang terdapat pada komposisi karawitan Layung.


D. Tinjauan Pustaka
            Banyak penelitian yang telah membahas R.C. Hardjasoebrata sebagai ilmuwan maupun sebagai komposer atau karyanya sebagai sumber kajian, namun belum ada satu pun yang mengkaji secara mendalam tentang komposisi karawitan Layung. Adapun buku dan tulisan yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
  Buku berjudul Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata terbitan STSI Press Surakarta 2006 karya Subuh membahas sejarah dan eksistensi Hardjasoebrata dalam ranah dunia karawitan yang bertujuan untuk membedah latar belakang penciptaan Komposisi karawitan Layung. Buku ini juga membahas proses perjalanan hidup Hardjasoebrata dan karya-karya yang diciptakan, salah satunya komposisi karawitan Layung yang akan menjadi objek penelitian.
  Kula Sowan Gusti: Kumpulan Gending Gereja Karangan C. Hardjasoebrata karya Karl Edmond Prier terbitan Pusat Musik Liturgi Yogyakarta tahun 1987 membahas tentang riwayat hidup R.C. Hardjasoebrata dan karya-karya lagu gereja. Buku ini berfungsi sebagai acuan untuk mengetahui latar belakang sejarah perjalanan dari R.C. Hardjasoebrata.
  “Gending-Gending Tiga Perempat: Suatu Analisis Bentuk Gending” (1992) laporan penelitian Budi Raharja. Tulisan berupa laporan ini menganalisis gending  ¾ (tiga per empat). Ini berguna untuk mengetahui dan menganalisis struktur balungan pada komposisi karawitan Layung.        
  Tulisan Haryono,  “Komposisi Karawitan Berbasis Pangkur” (Hibah Bersaing XVII 2009 ISI Yogyakarta) tulisan ini mengkaji  perkembangan komposisi karawitan yang diterapkan sesuai zamannya dan Pangkur Lampah Tiga sebagai penciptaan karya baru yang bisa diterapkan pada masa kini. Tulisan ini mengungkapkan tinjauan tentang lagu vokal/tembang, hampir sama dengan kajian komposisi karawitan Layung, tetapi arah kajian tulisan Haryono lebih menitikberatkan pada teknik penggarapan.
  Djoko Waluyo dalam laporan penelitiannya tahun 1992, mengkaji tentang “Gurau Kemanak Sebuah Komposisi Karawitan”. Pada tulisan ini disebutkan susunan komposisi dalam tradisi karawitan bisa disebut dengan gending. Kajian pada buku ini berguna untuk menganalisis perbandingan dalam penjabaran komposisi.
            Sumarsam dalam tulisannya berjudul Gamelan: Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa (2003) mengungkapkan pengaruh cara pikir musikolog Eropa terhadap pandangan musik orang Jawa dan teori gending masa kini. Buku ini berguna untuk mengetahui perbandingan garap musikal pada komposisi karawitan Layung yang menggunakan disiplin ilmu musik Barat dan Jawa.
  Buku Pengetahuan Karawitan II  karya Martopangrawit juga dijadikan sebagai sebuah sumber acuan dalam proses penyusunan tulisan ini. Buku ini memuat tentang dasar-dasar membuat sebuah komposisi karawitan. Buku tersebut di antaranya membahas  tentang penyusunan kalimat lagu, fungsi nada dan arah nada.
  Buku lain yang dijadikan acuan yaitu Komposisi Karawitan Tradisi karya Soeroso. Buku ini digunakan untuk membahas teori dasar dan pengantar komposisi. Tujuan dari penggunaan buku ini adalah untuk dijadikan acuan pada teknik garap, warna komposisi, dan bahan dasar komposisi.
            Bothekan karawitan II  terbitan Institut Seni Indonesia Surakarta tahun 2009 karya Rahayu Supanggah menguraikan garap dalam ruang lingkup karawitan yang dibagi menjadi beberapa macam yaitu materi garap, penggarap, sarana garap, perabot garap, penentu garap, dan pertimbangan garap.
            Buku yang berjudul Kritik Seni karya Nooryan Bahari membahas tujuan dan pemahaman kritik suatu karya. Dari buku ini dapat diambil intisarinya atau isi pokok khususnya yang bersinggungan langsung dengan sasaran utama dari penelitian ini.
E. Landasan Pemikiran
            Keahlian, kepandaian, kemampuan dan keterampilan seseorang tidak mungkin didapat tanpa melalui usaha serta pendidikan yang cukup.[8] Ada anggapan keterampilan yang dimaksud hadir berdasarkan bakat seseorang, begitu juga dengan aktualisasi sebuah karya. 
  Karya berkualitas tidak dapat dilepaskan dari latar belakang penciptanya. Pengalaman, pendidikan, dan lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir dan rasa estetis terhadap mutu dan kualitas suatu karya. R.C. Hardjasoebrata sebagai seorang seniman yang berlatar belakang ilmuwan berusaha menemukan cara bagaimana laras dapat menghasilkan harmoni musikal berdasarkan deretan kempyung dalam laras pelog.[9] R.C. Hardjasoebrata dapat menemukan sesuatu dan menyimpulkan, bahwa peralihan laras akan berlangsung sejajar dan dapat sinkron  dengan patet lain apabila mempunyai kempyung atas yang sama.
            Layung merupakan komposisi hasil karya R.C. Hardjasoebrata yang menjadi salah satu wujud kreativitas dan telah diakui kualitasnya. Dalam komposisi karawitan Layung terdapat pengolahan patet serta vokal dengan suara I, II, III. Ini merupakan wujud perkembangan yang harus diketahui proses tersebut dapat dikaji sebagai ilmu pengetahuan. Komposisi karawitan ini berisi tentang keindahan alam semesta yang membentuk pola pikir, sehingga seseorang selalu menghargai dan senantiasa menjaga alam semesta. Proses penciptaan karya ini membutuhkan kiat dan daya pikir cerdas untuk dapat diaktualisasikan dalam bentuk musikal. Metode untuk mengupas lebih dalam dengan pijakan dan aturan tertentu diperlukan untuk membedah persoalan yang ada pada karya tersebut.
F. Metode Penelitian
            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yang berguna untuk memenuhi sasaran dalam penulisan ilmiah. Deskriptif merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek ataupun objek penelitian pada masa sekarang dengan fakta yang riil adanya.[10] Objek dalam masalah ini adalah tinjauan musikal dan kontekstual pada komposisi karawitan Layung.
            Dalam melakukan penelitian tentunya diperlukan suatu cara yang sistematis, dalam arti dilaksanakan menurut pola tertentu, dari pola sederhana sampai pola yang kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien. Segala peristiwa atau kegiatan masyarakat tersebut dapat dianalisis dengan melakukan pendekatan, yaitu sebuah penelaahan yang tidak terbatas pada aspek apa saja akan tetapi berupa kajian yang berhubungan dengan analisis pemahaman yang baik pada suatu repertoar komposisi. Adapun langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1.     Tahap pengumpulan data
Pada tahap ini dikumpulkan berbagai data valid dan berkaitan dengan tinjauan musikal dan kontekstual pada komposisi karawitan Layung, yaitu mengenai sejarah dan latar belakang penciptaan karya komposisi karawitan Layung.
a.     Studi Pustaka
Studi pustaka ini dilakukan untuk memperoleh data tertulis yang mendukung penelitian maupun proses penulisan laporan. Pada studi pustaka ini data yang hendak diperoleh adalah data yang relevan dengan objek penulisan. Data yang dimaksud adalah data tentang biografi dari R.C. Hardjasoebrata dan hasil karyanya, yaitu komposisi karawitan Layung. Dari studi pustaka ini akan dicari jawaban tentang masalah dan pertanyaan yang tertuang dalam rumusan masalah. Data tersebut di antaranya berasal dari buku-buku koleksi perpustakaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, koleksi pribadi maupun dari teman.

b.     Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mendatangi informan yang dianggap mengerti dan mengetahui secara mendalam terhadap objek yang akan diteliti. Adapun pelaku yang terlibat sebagai informan yaitu M. Siswanto, mantan asisten R.C. Hardjasoebrata yang dianggap mengetahui seluk beluk tentang komposisi karawitan Layung. Sebelum wawancara, terlebih dahulu dirumuskan kerangka dengan membuat daftar pertanyaan yang akan dijadikan sebagai panduan wawancara. Langkah tersebut adalah mengklasifikasikan atau mengelompokkan pertanyaan yang relevan dan sesuai dengan tema guna menghindari terjadinya pertanyaan yang simpang siur dan memudahkan wawancara agar dapat berjalan efektif dan efisien perlu menggunakan perlengkapan yang dapat mendukung wawancara, di antaranya adalah walkman yang berfungsi merekam percakapan dan wawancara, serta buku catatan untuk menulis hal-hal yang dianggap penting. Hasil dari wawancara diharapkan dapat memberikan data akurat mengenai komposisi karawitan Layung, Kelancaran dalam sebuah penelitian tentunya diharapkan dapat maksimal.
c. Diskografi
Diskografi merupakan proses pengumpulan data dengan hasil rekaman. Pada penelitian ini penulis mengambil sampel dari rekaman yang di produksi oleh ISI Surakarta dengan wujud berupa Mp3. Rekaman tersebut berguna sebagai acuan dalam analisis musikal dan diharapkan dapat memberikan referensi sebagai bahan penelitian.
2.    Tahap Analisis Data
Semua data yang telah terkumpul dan terseleksi disusun dan diatur berdasarkan atas penggunaan masing-masing bab. Pada tahap inilah data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran sehingga dapat dipakai untuk menjawab persoalan yang diajukan dalam penelitian. Pembahasan dilakukan dengan pendekatan analisis data tersebut sebagai metode  analisis dari beberapa elemen yang mempunyai kaitan dengan komposisi karawitan Layung.
3.    Tahap Penulisan
Penulisan laporan penelitian ini disajikan secara sistematis, selengkapnya adalah sebagai berikut.
Bab I.     Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan pemikiran, metode penelitian, tahap pengumpulan data, tahap analisis data, tahap penulisan.
Bab II.    Tinjauan umum gending-gending R.C. Hardjasoebrata, latar belakang penciptaan, sekilas biografi, hasil karya, ide penciptaan.
Bab III.   Analisis garap komposisi Layung laras pelog patet barang, Diskripsi penyajian komposisi karawitan Layung,  garap musikal, Analisis garap vokal.
Bab IV.   Kesimpulan



[1]Marsudi, “Ciri Khas Gending-gending Ki Nartosabdo: Satu Kajian aspek Musikologi dalam Karawitan” (Tesis sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat sarjana S-2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 1998), 36.
[2]Ibid.
[3]Rahayu Supanggah, Bothekan Karawitan II  (Surakarta : ISI Press Surakarta, 2009), 229.
[4]Ibid., 230.

[5]Ibid.,  5.
            [6]Rahayu Supanggah, “Komposisi (baru) Karawitan”. Makalah disajikan dalam Seminar Karawitan di Jurusan Karawitan FSP ISI Yogyakarta tanggal 21 Maret 1996, 1-2.
[7]Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja, Studi Kasus Gending-Gending Karya C. Hardjasoebrata  (Surakarta: STSI Press, 2006), 30.
[8]Rahayu Supanggah, op. ci.t., 4.
[9]Subuh, Op. cit., 35.
[10]Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991), 63.